Announcement: Selamat datang di SLB Tunas Kasih Sedayu

Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Kasih Sedayu. Merupakan sekolah swatsa yang berada di wilayah sedayu untuk pendidikan anak yang berkebutuhan Khusus. SLB Tunas Kasih Sedayu menyelenggarakan pendidikan mulai dari TK (Taman Kana-kanak) / Kelas 0, SD, SMP dan SLTA. (SLB) Tunas Kasih Sedayu diselenggarakan dibawah naungan Yayasan Tunas Kasih. Sebuah yayasan yang berberak dalam bidang pendidikan dan kegiatan sosial.

Dengan dukungan pemerintah melalui BOS (Bantaun operasioanl Sekolah) Siswa yang sekolah di SLB Tunas Kasih Sedayu tidak dipungut biaya (Gratis). Semoga sekolah ini dapat menghantarkan siswa- siswi kedepan gerbang masa depan yang sukses dengan keahlian masing- masing yang telah dibekali sejak diri dari lingkungan keluarga, teman, dan sekolah.

This entry was posted on October 21, 2011, in Informasi.

Hak-hak Yang Dimiliki Anak Berkebutuhan Khusus

Meskipun dalam pembukaan undang-undang dasar ungkapan kalimat persamaan hak telah ditegaskan, namun diperlukan interprestasi persamaan hak memperoleh kesempatan. Hal ini mengandung arti kesempatan memperoleh pendidikan bagi setiap warga negara, yang tidak membedakan-bedakan termasuk di dalamnya anak berkebutuhan khusus. Untuk itu perlu dikaji adakah hak-hak anak berkebutuhan khusus telah dituangkan dalam perangkat hukum perundangan?
Masih banyak permasalahan tentang persamaan kesempatan memperoleh pendidikan yang dipandang deskriminatif terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Masih sangat sedikit lembaga pendidikan yang diperuntukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus berdasarkan data dari direktorat PSLB anak berkebutuhan khusus yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru 81.343 anak yang dilayani di sekolah khusus (SLB), sekolah inklusi dan percepatan belajar atau akselerasi, dari proyeksi jumlah anak berkebutuhan khusus 10% dari jumlah anak usia sekolah.
This entry was posted on August 24, 2016, in Kegiatan.

Menangani Kenakalan Anak

  1. Mulailah mengajarkan perilaku baik sesegera mungkin. Anda harus mulai mengajarkan respons terhadap rangsangan dan perilaku yang baik dan sehat sedini mungkin. Ketika Anda melihat mereka mengembangkan perilaku buruk, jangan biarkan perilaku itu lepas atau menganggapnya sebagai sesuatu yang akan berlalu. Katakan bahwa apa yang mereka lakukan salah dan kemudian tunjukkan cara bersikap yang lebih baik.
  • Anda juga perlu mencontohkan perilaku baik dalam upaya membantu anak belajar. Ketika mereka melihat Anda melakukan sesuatu yang “nakal”, izinkan mereka “menghukum” Anda selama beberapa menit
      2. Hadiahi anak karena berperilaku baik. Ketika anak melakukan sesuatu dengan baik atau benar, Anda    harus menghadiahi perilaku tersebut. Ini disebut dorongan positif dan akan mengajarkan anak untuk mengasosiasikan bahwa sesuatu yang baik terjadi dengan berperilaku baik. Jika Anda fokus untuk benar-benar menggunakan umpan balik semacam ini setiap waktu, anak Anda akan jauh lebih condong pada perilaku baik.

  • Dorongan positif juga tidak perlu berupa sebutir permen (walaupun Anda boleh melakukannya sesekali). Dorongan positif bisa berupa pelukan, tidur dengan Anda, atau memainkan permainan favoritnya bersama Anda.
    3. Tetapkan batasan dan patuhi dengan tegas. Kenakalan anak berusia 2 tahun adalah tahap normal perkembangan anak yang berpusat di sekitar menguji batasan dan mencari tahu cara untuk mandiri. Penting sekali memanfaatkan masa ini untuk menetapkan batasan untuk anak dan mengajari mereka bahwa batasan itu tegas. Jika Anda tidak melakukan hal ini, maka anak kemungkinan akan memiliki masalah perilaku selama beberapa tahun. Anak harus tahu bahwa bila Anda mengatakan tidak atau menyuruh mereka melakukan sesuatu, Anda benar-benar serius. Negosiasi berarti akan lebih banyak penyanggahan.

    • Sebagai contoh, katakanlah Anda memperbolehkan Jon makan penganan penutup setelah menghabiskan semua makanannya. Sekarang, dia hampir menghabiskan makanannya kecuali mungkin satu atau dua gigit lagi (mungkin sayur?). Anda tidak boleh berkompromi di sini dan memberinya penganan penutup karena ia akan mencoba hal ini lagi dan lain kali hanya sedikit yang dihabiskan.
    • Contoh lain adalah waktu tidur. Misalnya Anda memiliki peraturan bahwa Sara harus membaca sendiri sampai tidur jam 19:30, tepat setelah makan malam dan menggosok gigi. Ia tidak boleh terganggu oleh mainan baru yang dibelikan nenek dan mengganggu rutinitasnya yang biasa. Mainan tersebut bisa menunggu sampai pagi hari, bahkan bila itu berarti ia mengamuk sekarang.
This entry was posted on June 16, 2016, in Kegiatan.